Tony Blair
Tiga Kali Khatam Alquran
Semasa masih menjabat sebagai perdana menteri (PM) Inggris, Tony Blair dikenal “atheis”. Pemimpin yang dijuluki “Anjing pudel George W. Bush” ini juga pelit bicara soal agama. Bahkan, bersama mantan Direktur Komunikasi dan Strategi pribadinya, Alaistair Campbell, ia mendeklarasikan kalimat “We Don’t do God”. Namun, setelah turun jabatan pada 2007, Blair baru menganut Katolik. Kini ia malah mengaku membaca Alquran setiap hari, dan bahkan sudah tiga kali mengkhatamkan kitab suci umat Islam itu.
Sejak tak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris, Tony Blair menjadi lebih terbuka terhadap agama. Ia bahkan mengaku membaca alquran setiap hari karena telah membuatnya jadi “melek” iman. “Melek iman itu sangat penting dalam dunia global”, katanya seperti dilaporkan Daily Mail, Senin (23/6) lalu.
Blair membaca Alquran setiap hari untuk memahami hal-hal yang terjadi di dunia, karena menurutnya kitab suci umat Islam tersebut memberikan perintah-perintah yang jelas atau instruktif. Ia juga meyakini pengetahuan tentang iman membantu perannya sebagai utusan ditimur tengah mewakili PBB, Uni Eropa, dan Rusia. Sebelumnya Blair juga pernah menyatakan bahwa iman umat Islam itu indah, dan Nabi Muhammad merupakan figur yang telah mendorong peradaban. Lima tahun silam Blair memang pernah menyatakan Alquran merupakan kitab reformasi yang inklusif. Alquran juga mengagungkan ilmu pengetahuan dan membanci takhyul. “Kitab (Alquran) itu memberikan arahan praktis tentang pernikahan, perempuan dan juga pernikahan,”ujarnya.
Bagi Blair, Alquran diibaratkan sebagai sumber inspirasi dan keberanian. Didalamnya ia menemukan konsep kasih sayang dan persahabatan sebagai jiwa dari kemanusiaan. Namun, Blair juga mengakui bagaimana para pelaku jihad menerjemahkan Alquran sebagai panggilan untuk mengangkat senjata. Contohnya, ketika terjadi serangan bom diri di London pada tahun 2005 yang menewaskan 52 orang, kala ia masih menjabat sebagai perdana menteri.
Tak kurang dari tiga kali Blair menamatkan bacaan Alquran. Blair pun mengaku selalu membawa kitab itu kemana pun ia pergi. Hal tersebut ia tiru dari Chelsea Clinton (puteri mantan presiden AS Bill Clinton) yang pernah menghadiahinya sebuah Alquran dan dianggap sebagai orang yang mengubah Blair menjadi pembaca Alquran.
Membaca Alquran juga membantunya dalam menunaikan tugas sebagai utusan perdamaian. Selain itu membaca Alquran juga membuat ia terbiasa dengan pandangan adik iparnya Laureen Booth yang menjadi muallaf.
Tony Blair dan Iman
Setelah mengundurkan diri sebagai perdana menteri Inggris, Tony Blair jadi suka bicara tentang pentingnya iman dalam dunia modern dan menekankan perlunya umat beragama berdialog satu sama lain. Agak aneh memang, karena selama masa pemerintahannya, ia jarang sekali berbicara kepada publik tentang imannya secara khusus dan iman pada umumnya. Meski begitu lewat wawancara khusus dengan BBC, beberapa saat setelah meninggalkan Downing Street 10 kediaman resmi PM Inggris – Blair baru mengakui bahwa imannyalah yang telah menguatkannya. Terutama saat menghadapi berbagai krisis seperti kala ia dihujat banyak orang karena telah mengambil keputusan utuk menjadi sekutu AS dalam invasi ke Irak pada tahun 2003 silam.
Seperti diketahui, Blair memutuskan untuk terlibat dalam perang Irak dengan mengirimkan 45.000 tentara Inggris sebagai sekitu Amerika Serikat, yang akibatnya memicu protes besar di Inggris. Meski mendapat kecaman, Blair tetap mampertahankan 7.100 pasukan Inggris di Basra.
Dikemudian hari dalam buku memoarnya, A Journey, yang diterbitkan 1 September 2010, Blair mengatakan penyesalan dirinya atas banyaknya kehidupan yang hilang sejak invasi. Ia juga menambahkan bahwa dirinya gagal untuk memperkirakan kejadian berdarah, kerusakan, dan kekacauan yang timbul serta mimpi buruk yang diakibatkan bergabungnya pasukan Inggris di Irak yang justru mengakibatkan kematian warga sipil secara masif, perusakan ketertiban sosial, pelanggaran hak-hak asasi manusia. Dan yang paling menyedihkan adalah keputusan terhadap perang Irak justru disandarkan atas suatu bukti yang ternyata dikemudian hari terungkap bahwa hal tersebut adalah bohong belaka. Apa itu? Senjata pemusnah massal itu ternyata tidak pernah ditemukan di Irak.
Atas tindakan tersebut, Blair mengaku menyesal dan akan membaktikan sisa hidup untuk membantu terciptanya perdamaian dikawasan Irak. Dalam buku memoarnya, Blair juga membocorkan bagaimana “elang-elang buas AS”, terutama Dick Cheney, wapres AS ketika itu, terlihat sangat berhasrat untuk menginvasi negara-negara di Timur Tengah, termasuk Suriah.
Isu Skandal Seks
Diluar soal pengakuan Blair tentang keimanannya, mantan PM Inggris ini pun sempat diguncang isu tak sedap. Surat kabar di Inggris beberapa waktu lalu menyebutkan Carole Caplin, seorang tukang pijat dikabarkan tekah berhubungan seks dengan Blair.
Tak terima dengan pemberitaan tersebut, Carole pun melakukan gugatan terhadap Daily Mail, koran yang telah menulis berita tersebut ke pengadilan tinggi di London. Dalam pengakuannya, ia meyatakan tidak pernah sekali pun berhubungan seks dengan Blair, ia menyatakan bahwa hubungannya dengan Blair hanya sebatas memijat dan tidak pernah sampai berhubungan badan.
Carole juga membantah sebuah artikel yang menyebutkan bahwa ia akan membongkar rahasia seks pasangan Tony dan Cherie Blair. Ia menolaknya, kendati bakal dibayar Rp 14 miliar dari sebuah penerbit untuk menceritakan kisah pasangan tersebut.
Kabar tersebut tak pelak membuat heboh masyarakat Inggris, setelah sebelumnya Tony dan Cherie Blair juga tidak diundang di pesta penikahan Pangeran William dan Kate Middleton. Juru bicara ST. James, kediaman keluarga kerajaan, mengatakan Blair dan Brown, PM Inggris saat ini, tidak diundang karena keduanya bukan pengawal dan ksatria kerajaan. Sebelumnya, pada pernikahan Pangeran Charles dan Puteri Diana di ST. Paul Cathedral pada tahun 1981, seluruh mantan perdana menteri Inggris yang masih hidup diundang ke acara tersebut.
Hubungan antara Blair dengan istana Buckingham pun diketahui diwarnai dengan sejumlah ketegangan. Isteri Blair, Cherie, diketahui menolak untuk melakukan tradisi penghormatan dengan membungkukkan badan kepada anggota keluarga kerajaan.
Terlepas dari semua itu, bisa dibilang Tony Blair merupakan sosok yang pantas untuk dikenang sebagai pemimpin karismatik yang sukses memacu perekonomian Inggris, tetapi sekaligus tak populer karena kebijakannya yang mendukung invasi AS ke Irak.
Majalah Time bahkan menjuluki duet antara Tony Blair dan Geoge W. Bush sebagai “The George and Tony Show”. Sementara di Inggris, dikenal istilah BBF (Bush Best Friend). Hubungan pertemanan yang akrab antara keduanya terjadi ketika Inggris menyerang kepulauan Malvinas.
Selama kepemimpinannya, Blair dinilai sukses dalam meningkatkan standar kehidupan rakyat Inggris dan menjadikan Inggris sebagai pusat perekonomian global. Blair juga sukses mengurangi jumlah anak-anak miskin dan menjadikan Inggris negara sebagai pertama yang menerapkan target pengurangan emisi karbon dioksida melalui perangkat hukum. Dia juga dikenang sebagai pemimpin Partai Buruh yang sukses memimpin dalam tiga periode, suatu prestasi politik yang sangat langka di Iggris. Bukan hanya itu, ia juga berhasil memecahkan kebuntuan masalah di Irlandia Utara.
Disisi lain, kesuksesan pemerintahan Blair juga dibayangi sejumlah kegagalan dan kekecewaan publik, diantaranya kontroversi seputar layanan kesehatan nasional yang digagas menteri kesehatan Patricia Hewitt, tindakan mendagri Charles Clarke yang mendeportasi 1.023 tahanan asing, dan skandal seks Deputi PM John Prescott.
Perjalanan hidup pria yang bernama lengkap Anthony Charles Lynton Blair ini sendiri cukup berliku. Blair yang lahir di Edinburg,Skotlandia, 6 Mei 1953, menghabiskan masa kecilnya di Distrik Durham, sebelum kemudian melanjutkan pendidikannya di Oxford University. Ia mulai tertarik pada politik saat berusia 20-an dan bergabung dengan partai buruh saat Inggris berada dibawah kekuasaan Margaret Thatcher yang berasal dari Partai Konservatif, yang selama hampir 20 tahun berkuasa di negara itu.
Pada 1997, Blair, yang lahir dari pasangan Hazel dan Tony Blair, berhasil mengalahkan pasangan PM John Major dari Partai Konservatif. Blair yang kala itu berusia 43 tahun, tercatat sebagai PM termuda Inggris dalam masa 200 tahun.
Blair dan dan Musik Rock
Sebagaimana banyak remaja pada akhir tahun 1960-an, Tony Blair juga tergila-gila pada musik rock. Dia sangat mengagumi penyanyi berbibir seksi, Mick Jagger.
Sebelum masuk ke bangku kuliah, Blair bertolak ke London, dan menghabiskan waktu satu tahun disana “mengelola” band pelajar dan konser musik serta disko dengan temannya, Alan Collenette. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka juga menjadi tenaga pengatur rak di sebuah toko makanan.
Saat belajar hukum St. John College, Oxford, pada awal 1970-an, Blair sempat menjadi anggota kelompok musik rock bernama Ugly Rumours. Ia memegang posisi sebagai vokalis sekaligus pemain gitar. Banyak yang mengatakan ia berkiblat seluruhya pada Mick Jagger.
Penampilan perdana grup ini di Corpus Christi College, Oxford, sangat kacau, dimana drum kit jatuh terpisah. Dalam penampilan kedua grup musik tersebut, menurut rekan satu bandnya, Mark Ellen, Blair mengenakan kaus berlengan terompet yang terbuka dibagian dadanya sehingga memperlihatkan sebagian tubuhnya, melingkari lehernya dengan syal, dan mengenakan sepatu hak tinggi. Ia menjerit dengan teriakan klasik bak penyanyi rock: Let’s rock, dan melantunkan sejumlah tembang milik Rolling Stones, seolah dirinya adalah Jagger.
Dikemudian hari, Tony Blair pun memanfaatkan dunia musik untuk kegiatan politiknya, yang dalam kampanyenya tak hanya memihak buruh, tapi juga kaum muda. Dengan latar belakannya sebagai anak band, ia pun merangkul kaum muda dengan mendukung kehadiran Britpop (British Pop), sebuah genre musik yang berakar dari alternative rock yang lahir di Inggris pada tahun ’90-an, untuk mengalahkan pesaing-pesaingnya yang sudah lebih dulu terjun ke dunia politik sejak ia masih duduk di bangku kuliah.
Rp 101,6 juta per-Menit
Kendati sudah tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris, bukan berarti Tony Blair kekurangan uang. Bisa jadi pundi-pundi kekayaannya malah bertambah banyak, apalagi setelah ia didapuk sebagai pembicara di mancanegara.
Blair, diketahui meraup bayaran hampir 400 ribu poundsterling (sekitar 6,7 miliar) untuk dua kali menyampaikan pidato, masing-masing selama 30 menit. Artinya, dalam hitungan satu menit saja, Blair bisa mendapatkan uang 6 ribu poundsterling atau sekitar Rp 101,6 juta hanya dengan cuap-cuap didepan mikrofon.
Hal itu terjadi saat Blair menjadi pembicara di Manila, Filipina, pada 23 Maret 2009 lalu. Belum lagi di negara-negara lainnya. Tak heran bila kini Blair menjadi pembicara termahal di dunia. Saat berbicara di konferensi pertama di Manila, Blair dibayar tak kurang dari 182 ribu poundsterling (Rp 3,08 miliar) untuk pidato denga topik “Pemimpin sebagai Pembangunan Bangsa di Era Globalisasi”.
Jumlah yang sama, setidaknya, diterima Blair setelah memberikan ceramah dengan topik “Pemimpin sebagai Negosiator Utama” pada hari yang sama. “Untuk pidato pertama di Universitas Ateneo de Malina, Blair mendapat hampir 2 ribu Euro”, kata Manny Pangilinan, Direktur perusahaan telekomunikasi PLDT yang mensponsori pidato Blair, seperti dikutip harian Telegraph edisi minggu, 5 April 2009.
Juru bicara Blair menyangkal bahwa bosnya telah menerima bayaran dalam mata uang Euro. Meski demikian, sang jubir juga tidak menyebutkan dalam mata uang apa yang diterima bosnya sebagai upaah untuk memberikan ceramah. Sekedar informasi, bayaran yang diterima Blair ini jauh melampaui ongkos pidato untuk mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan George W. Bush. Clinton mendapat bayaran 100 ribu dollar AS setiap kali pidato hingga akhirnya dia memutuskan untuk berhenti menjadi pembicara saat isterinya, Hillary diangkat menjadi menteri luar negeri AS. Bush juga dikabarkan mendapat bayaran yang sama dengan Clinton untuk sekali berpidato.
Selama 36 jam berada di Filipina, Blair tinggal di kediaman duta besar Inggris. Blair juga sempat makan siang bersama bersama Presiden Gloria Macapagal Arroyo di istana Malacanang.
Selain berpidato, Blair juga bekerja sebagai penasihat Paruh waktu di JP Morgan Chase dengan bayaran 2,5 juta poundsterling. Ia juga ditunjuk sebagai penasihat senior pada perusahaan Khosla Ventures yang bermarkas di Silicon Valley. Perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Amerika Serikat kelahiran India, Vinod Khosla, pada 2004 ini berfokus pada pengembangan pendukung teknologi hijau (green technology).
Tabloid C&R edisi 669 THN XIII
RABU, 22 – 28 JUNI 2011